.png&w=3840&q=75)
.png&w=3840&q=75)
.png&w=3840&q=75)
.png&w=3840&q=75)
.png&w=3840&q=75)
Iman Boost Fest' 26
Yuk, datang ke Iman Boost Fest' 26 dan nikmati keseruannya langsung!
Segera amankan tiketmu hanya di web.safarfriendly.com
IMAN BOOST FEST 2026
"Seni Menerima Takdir"
Safar Friendly kembali mempersembahkan IMAN BOOST FEST dengan tema “Seni Menerima Takdir” yang akan mengajak kita menjelajahi perjalanan spiritual untuk menemukan keiklasan dan merelakan diri kepada takdir Allah melalui pendekatan Psikologi Islami.
Iman Boost Fest 2026 akan mencakup :
- Kajian Akbar
- Mini Art Exhibition,
- Bazar Produk Halal Premium
Festival ini juga akan menampilkan kisah inspiratif dari pembicara dan narasumber yang akan mengajak semua orang memahami bagaimana Al-Qur'an dan Sunnah memetakan respon emosi manusia serta panduan spiritual untuk mengatasinya.
Ketika badai ujian datang menghampiri, respons pertama kita sering kali adalah penolakan yang berujung pada ledakan amarah. Kita kecewa karena realita hidup tidak berjalan sesuai dengan skenario ego kita. Namun, tahukah Anda bahwa di balik beratnya menahan amarah pada hentakan pertama musibah, ada hadiah terbesar yang langsung digaransikan oleh Rasulullah ﷺ?
Bersama Ustadz Ridho Febri, sesi pembuka ini akan membedah secara lugas dan aplikatif tentang cara menjinakkan badai ego, memahami hakikat sabar yang sejati, serta mempraktikkan solusi praktis sunnah untuk meredam amarah demi menjemput investasi tertinggi kita: Surga Allah.
Setelah lelah marah, jiwa kita sering kali terjebak di dalam labirin masa lalu. Kita mulai berandai-andai: "Seandainya dulu aku begini..." atau "Jika saja waktu bisa diputar kembali...". Tanpa disadari, tawar-menawar dengan kenyataan ini justru menjadi racun yang menguras energi batin dan melemahkan iman kita kepada takdir.
Dipandu oleh Ustadz/Ustadzah yang akan memberikan materi, sesi kedua ini akan mengokohkan kembali pemahaman kita tentang keindahan Lauhful Mahfuzh. Kita akan belajar membedah bahaya laten di balik kata "seandainya", dan bagaimana cara tegas menutup celah tipu daya setan agar hati kita bisa tegak berdiri meyakini bahwa skenario Allah tidak pernah salah.
Saat energi kita telah habis untuk memberontak dan menawar, jiwa biasanya akan memasuki fase sunyi. Sedih, lemas, dan ruang duka yang teramat dalam. Banyak dari kita yang keliru di fase ini; kita mengurung diri, melarikan diri ke hiburan semu, atau mengumbar luka di media sosial. Padahal, Islam tidak pernah melarang kita untuk menangis atau bersedih.
Bersama Umi Silvy sebagai Hypnoterapyst, kita akan belajar merawat luka jiwa dengan cara yang mendalam. Meneladani kisah Nabi Ya'qub AS, sesi ini akan menuntun kita untuk memindahkan ruang aduan dari sesama makhluk yang penuh keterbatasan, menuju hamparan sajadah di keheningan malam. Karena pada hakikatnya, curhat terindah dan paling aman hanyalah kepada Rabb-mu.
Di ujung lorong air mata dan duka, ada sebuah dermaga kedamaian bernama penerimaan. Jiwa yang tenang (Nafs al-Muthma'innah) tidak lahir dari kehidupan yang lurus tanpa ujian, melainkan dari hati yang telah selesai berdamai dan rida atas segala ketentuan Sang Pencipta. Selesai berserah, tanpa tapi, tanpa nanti.
Sesi puncak ini akan diantarkan dengan penuh kelembutan oleh Ustadzah, yang akan membedah makna penerimaan batin melalui sudut pandang keimanan dan parenting Islami. Kita akan melihat bagaimana keikhlasan dan ketauhidan seorang ibu—sebagai madrasah pertama—mampu mengubah rasa lelah, khawatir, dan tekanan dalam mendidik anak menjadi energi cinta, ladang pahala, dan fondasi ketentraman bagi seluruh anggota keluarga
Tiket ini sudah termasuk :
-Snack
-Goodie bag
Tiket ini sudah termasuk :
-Snack
-Goodie bag
Ketika badai ujian datang menghampiri, respons pertama kita sering kali adalah penolakan yang berujung pada ledakan amarah. Kita kecewa karena realita hidup tidak berjalan sesuai dengan skenario ego kita. Namun, tahukah Anda bahwa di balik beratnya menahan amarah pada hentakan pertama musibah, ada hadiah terbesar yang langsung digaransikan oleh Rasulullah ﷺ?
Bersama Ustadz Ridho Febri, sesi pembuka ini akan membedah secara lugas dan aplikatif tentang cara menjinakkan badai ego, memahami hakikat sabar yang sejati, serta mempraktikkan solusi praktis sunnah untuk meredam amarah demi menjemput investasi tertinggi kita: Surga Allah.
Setelah lelah marah, jiwa kita sering kali terjebak di dalam labirin masa lalu. Kita mulai berandai-andai: "Seandainya dulu aku begini..." atau "Jika saja waktu bisa diputar kembali...". Tanpa disadari, tawar-menawar dengan kenyataan ini justru menjadi racun yang menguras energi batin dan melemahkan iman kita kepada takdir.
Dipandu oleh Ustadz/Ustadzah yang akan memberikan materi, sesi kedua ini akan mengokohkan kembali pemahaman kita tentang keindahan Lauhful Mahfuzh. Kita akan belajar membedah bahaya laten di balik kata "seandainya", dan bagaimana cara tegas menutup celah tipu daya setan agar hati kita bisa tegak berdiri meyakini bahwa skenario Allah tidak pernah salah.
Saat energi kita telah habis untuk memberontak dan menawar, jiwa biasanya akan memasuki fase sunyi. Sedih, lemas, dan ruang duka yang teramat dalam. Banyak dari kita yang keliru di fase ini; kita mengurung diri, melarikan diri ke hiburan semu, atau mengumbar luka di media sosial. Padahal, Islam tidak pernah melarang kita untuk menangis atau bersedih.
Bersama Umi Silvy sebagai Hypnoterapyst, kita akan belajar merawat luka jiwa dengan cara yang mendalam. Meneladani kisah Nabi Ya'qub AS, sesi ini akan menuntun kita untuk memindahkan ruang aduan dari sesama makhluk yang penuh keterbatasan, menuju hamparan sajadah di keheningan malam. Karena pada hakikatnya, curhat terindah dan paling aman hanyalah kepada Rabb-mu.
.
.
Indonesia | Jakarta Pusat
Pengelola Event